Menu Tutup

IBADAH DOA PUASA MAHASISWA/I STTII PURWOKERTO

(Senin, 05 April 2021)
Speaker: Dr. J. Daud Balang


Rangkaian ibadah doa puasa Mahasiswa/i STTII Purwokerto yaitu, menyanyikan pujian penyembahan, berdoa syafaat dengan membentuk lingkaran pertingkat dan bersama-sama mendengarkan kebenaran Firman Tuhan.

Teks Firman Tuhan dalam ibadah puasa kali ini terdapat di dalam Efesus 4: 11-16 dengan tema “Bertumbuh tanpa Batas” dengan kata lain jangan berhenti bertumbuh di dalam Kristus. Iman Kristen sering digambarkan sebagai sesuatu yang hidup, bertumbuh, berproses atau dinamis. Allah terus “memoles” kita, sampai ia mendapati hidup kita sempurna di mata-Nya.

Dan Alkitab memberi petunjuk dan ajakan-ajakan untuk bertumbuh di dalam Kristus, oleh karena itu Alkitab menolak iman yang mati atau statis.

Dalam penjabarannya, Dr. Daud Balang menyampaikan, dalam hal-hal apa saja seharusnya kita bertumbuh tanpa batas, yaitu:

Pertama, “Bertumbuh dalam karunia rohani” (ay.11-12). Karunia rohani tidak sama dengan bakat. Semua manusia mempunyai bakat sejak lahir, tetapi karunia rohani adalah anugerah Tuhan yang diberikan hanya kepada orang percaya, dan tujuannya ialah untuk memperlengkapi orang percaya dalam tugas-tugas pelayanan dan untuk pembangunan tubuh Kristus.

Tuhan sangat senang jika kita melayani-Nya sesuai dengan karunia yang Ia percayakan dan nama Tuhan dipermuliakan melaluinya. Tetapi, jika Tuhan tidak dipermuliakan dengan karunia yang Ia percayakan pada kita, maka karunia itu akan diambil kembali. Oleh karena itu, teruslah bertumbuh dalam Kristus melalui karunia-karunia yang saudara miliki dan biarlah hanya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Kedua, “Bertumbuh dalam Kesatuan Iman”(ay.13). Bertumbuh secara rohani (dalam iman) adalah bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Dalam pasal 4:1-32, Paulus mengajarkan bahwa “kesatuan Roh” dan “kesatuan iman” dipelihara dan disempurnakan dengan:saling menerima semua perbedaan karunia; bertumbuh dalam kasih karunia, bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus; tidak lagi menjadi anak-anak yang menerima “rupa-rupa angin pengajaran” palsu; dan hidup dalam “kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”.

Jadi, bertumbuhlah dalam kesatuan iman di dalam Yesus Kristus, saling menerima perbedaan karunia satu dengan yang lain, karena sesungguhnya kita saling membutuhkan dan saling melengkapi dalam pekerjaan pelayanan kepada Tuhan.

Ketiga, “Bertumbuh dalam Pengenalan akan Yesus”. Pengetahuan yang benar tentang Anak Allah artinya sama dengan “belajar mengenal Kristus”. Pentingnya bertumbuh secara

KAPEL (Jumat, 26 Maret 2021)

SPEAKER : Bpk. David Mudumi, M.Th
Firman Tuhan di Ibadah Kapel kali ini terdapat di dalam kitab Yeremia 24:1-10, dengan Tema “Kesempurnaan”. “Kesempurnaan hanya milik Tuhan, sedangkan manusia penuh dengan keterbatasan”, demikianlah Bpk. David menyampaikan pendahuluan khotbahnya.

Dalam Perjanjian Lama Allah terlihat seperti sangat kejam terhadap umat-Nya, yaitu ketika Allah melakukan pendisiplinan kepada bangsa Israel melalui masa pembuangan di Babel. Namun, sesungguhnya itu adalah bentuk keadilan Allah atas apa yang telah di lakukan oleh bangsa tersebut.

Berdasarkan nats firman Tuhan Yeremia 24:1-10, Allah menunjukkan penglihatan kepada nabi Yeremia tentang dua keranjang buah ara, yaitu buah yang sangat baik dan buah yang jelek, yang mana mengadung pesan atas segala rancangan Allah kepada bangsa Israel. Bpk. David Mudumi, M.Th menyampaikan dua poin tentang kesempurnaan Allah atas segala rancangan dan perbuatan-Nya terhadap umat-Nya.
Pertama, Kesempurnaan Allah dalam hal Kasih (Ay.5-7). Bangsa Israel tidak taat kepada Allah, sehingga Allah menghukum mereka. Namun, dalam masa penghukuman sekalipun Allah tetap memperhatikan mereka dan merencanakan sesuatu untuk kebaikan mereka. Hukuman Allah terhadap bangsa Israel bukanlah berarti bahwa Allah membenci bangsa tersebut dan berencana untuk menghancurkannya, melainkan melalui hukuman tersebut Allah sedang mendisiplin dan memurnikan iman mereka, sehingga mereka mengalami pertobatan dan memiliki hati yang tulus, serta ketaatan terhadap perintah Allah. Dan sesungguhnya semua itu untuk kebaikan mereka sendiri, karena Allah mengasihi mereka.
Kedua, Kesempurnaan Allah dalam Keadilan (Ay.8-10). Allah adil atas segala perbuatan-Nya.
Melalui nabi Yeremia Allah telah menyampaikan pesan kepada bangsa Israel, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Oleh karena itu mereka mengalami kengerian yang luar biasa yaitu pada saat kejatuhan Yerusalem, dan peristiwa itu adalah sangat memalukan sepanjang sejarah Israel.
Allah sempurna dalam kasih dan keadilan. Ketika Allah menghukum umat-Nya, Ia tetaplah Allah yang penuh kasih, yang mengasihi umat-Nya, yang merencanakan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya.
Kapel yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa/I, Dosen dan Staf Kampus ini sungguh menyegarkan.Kami percaya bahwa Tuhan Yesus akan terus menggunakan Kapel Siang sebagai wadah untuk membentuk Mahasiswa STTII Purwokerto menjadi hamba Tuhan yang Seimbang antara Ilmu dan Iman.
(Tim Redaksi)
 

KAPEL (Jumat, 19 Maret 2021)

Speaker: Ibu Rodenita Barus, M.Mis
 
“Harus selalu siap sedia untuk melayani Tuhan” demikianlah yang disampaikan oleh ibu Rodenita Barus sebelum memulaikan khotbahnya.
Teks khotbah yang disampaikan oleh ibu Rodenita Barus terdapat dalam injil Yohanes 13: 1-17 yaitu dengan judul perikop Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Dalam penjabarannya, ibu Rodenita Barus menyampaikan 3 hal yang dapat dipelajari dari peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya.
Hal pertama ialah Mengasihi (ay,1), dari perikop ini ketika kita mengingat pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya yang harus muncul dalam paradigma kita adalah mengasihi. Tidak mungkin Tuhan Yesus melakukan hal tersebut jika tidak ada unsur kasih di dalamnya. Yesus menjukkan bahwa Ia sentiasa mengasihi murid-murid-Nya sampai kepada kesudahannya (Yesus akan beralih dari dunia ini kepada Bapa).
Kasih yang telah lebih dulu Yesus nyatakan kepada murid-murid-Nya adalah teladan bagi para murid dan semua orang percaya untuk harus saling mengasihi.
Hal kedua ialah melakukan yang terbaik (Ay.4-5). Pembasuhan adalah adat istiadat orang Yahudi yang merupakan pekerjaan yang sangat hina, yang hanya di izinkan untuk dikerjakan oleh budak non-Yahudi. Tuhan Yesus mau membasuh kaki para murid-Nya sekalipun hal tersebut adalah pekerjaan yang hina dalam istiadat orang Yahudi, bahkan Tuhan Yesus rela untuk mati di kayu salib yang mana kematian di kayu salib dipandang sebagai hukuman yang paling hina.Tuhan telah melakukan hal yang terbaik bagi para murid-Nya dan kita semua orang percaya, demikianlah seharusnya kita melakukan yang terbaik bagi Tuhan, walau mungkin hal tersebut tidak dipandang spektakuler oleh dunia.
Hal ketiga ialah menjadi teladan (Ay.12-170. Teladan kita untuk menjadi guru ialah Tuhan Yesus. Kalau kita berkata Yesus adalah guru kita itu artinya kita punya penundukkan diri, pikiran kepada kebenaran, ukuran, nilai-nilai dan perilaku-perilaku Tuhan Yesus Kristus.
Kapel yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa/I, Dosen dan Staf Kampus ini sungguh menyegarkan.Kami percaya bahwa Tuhan Yesus akan terus menggunakan Kapel Siang sebagai wadah untuk membentuk Mahasiswa STTII Purwokerto menjadi hamba Tuhan yang Seimbang antara Ilmu dan Iman.
(Tim Redaksi)

IBADAH DOA PUASA MAHASISWA/I PURWOKERTO

Senin, 01 Maret 2021

Pembicara: Bp. Dr.Pangeran Manurung

 

Senat Mahasiswa di bidang kerohanian STTII Purwokerto mengadakan suatu program Doa dan Puasa bagi seluruh Mahasiswa/i STTII Purwokerto di setiap awal bulan. Tujuan dari kegiatan ini ialah untuk melatih mahasiswa/i dalam penguasaan diri dan memfokuskan diri kepada Tuhan.

Teks khotbah dalam ibadah Doa Puasa yang disampaikan oleh Dr. Pangeran Manurung ialah Yohanes 15:1-8, dengan tema “Lots of Fruit”.

Dalam penjabarannya, Dr. Pangeran Manurung menungkapkan bahwa apapun profesi kita dan panggilan kita jelas kita dituntut untuk berbuah. Standard dan kualitas buah yang dituntut Tuhan untuk kita hasilkan bukanlah berbuah yang sedang-sedang atau sedikit, tetapi berbuah banyak. Dengan berbuah banyak, baru layak disebut memuliakan Tuhan.

Berdasarkan teks Yohanes 15:1-8, Dr. Pangeran Manurung menjelaskan hal bagaimana agar kita dapat berbuah banyak, yang dirangkum menjadi 3 poin.

Pertama “Still” atau “Tinggal”. Kita perlu untuk tetap tinggal di dalam Tuhan apapun yang terjadi. Kedua “Right”. Artinya melakukan apa yang benar dan kebenarannya harus dapat dibuktikan, sebab kita berasal dari pokok yang benar. Ketiga “Clean”, yaitu siap untuk dibersihkan melalui pendisiplinan yang Tuhan berikan bagi kita untuk dapat berbuah lebih banyak.Jadi, aplikasinya ialah hendaklah kita berbuah banyak, demikianlah nama Tuhan dipermuliakan.

Di akhir khotbahnya, Dr. Pangeran Manurung menantang seluruh mahasiswa/i STTII Purwokerto untuk mengambil komitmen berbuah banyak dalam panggilan sebagai hamba Tuhan. Kami percaya, bahwa melalui ibadah doa puasa ini seluruh mahasiswa/I diberkati dan disegarkan oleh kebenaran Firman Tuhan.

#sttiipurwokerto #kapel  #doapuasa

 

(Tim Redaksi)

CHAPEL 26 FEBRUARI 2021

Speaker: Ibu Dian Handayanto

 

Teks Khotbah untuk Kapel kali ini adalah 1 Raja-Raja 11. Yerobeam menjadi tokoh sentral di sepanjang pembahasan Ibu Dian.

Dalam penjabarannya, Ibu Dian mengungkapkan bahwa hal positif yang dapat diteladani dari Yerobeam adalah sifat keberanian dan ketangkasannya ketika berjuang di medan perang. Dari aspek kepemimpinan, Yerobeam dapat menularkan pengaruh sehingga banyak orang yang mengikutinya hingga pada akhirnya memimpin Kerajaan Israel Utara dengan 10 suku.
 
Aplikasi yang disampaikan oleh Pengkhotbah; Mahasiswa Teologi perlu memiliki skil yang nantinya secara nyata dapat digunakan dalam kebutuhan pelayanan pastoral. Mahasiswa yang dididik di Kampus harus siap sedia dalam Gereja Pelayanan. Jika sudah lulus, harus siap sedia diutus ke berbagai daerah dan menjadi berkat disana.
 
Tidak kebetulan. Ibu Dian yang dipercaya menyampaikan Firman Tuhan, pada hari yang sama juga merayakan pertambahan usia. Selamat Ulang Tahun Ibu Dian. Tuhan senantiasa memberkati Ibu dan Keluarga.
 
Kapel yang dihadiri oleh Dosen dan Staf Kampus ini sungguh menyegarkan. Sebelum sesi Khotbah, Istri Pak Pangeran mempersembahkan pujian tentang “Tuhan sebagai sandaran”. Terima kasih juga kami sampaikan untuk Ibu Pangeran yang sudah menjadi berkat.
 
Kami percaya bahwa Tuhan Yesus akan terus menggunakan Kapel Siang sebagai wadah untuk membentuk Mahasiswa STTII Purwokerto menjadi hamba Tuhan yang Seimbang antara Ilmu dan Iman.
 
(Tim Redaksi)
 

CHAPEL 19 FEBRUARI 2021

Di masa Pandemi Covid-19, STTII Purwokerto hanya mengadakan Kapel setiap Jumat.
 
Kisah Para Rasul 9 menjadi teks pilihan Dr. Daud Balang siang ini. Ananias adalah tokoh sentral dalam pembahasannya.
 
Dalam eksposisinya, Dr. Daud Balang menjelaskan bahwa Ananias saat itu dikenal sebagai sosok yang terkenal Saleh dan Taat. Kehidupannya bukan hanya berdampak atau berpengaruh positif ke sekitarnya, tetapi lebih dari itu Ananias memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan.
 
Lebih lanjut Dr. Daud Balang menjelaskan bahwa hubungan baik dengan Tuhan itulah kunci utama yang menyebabkan Ananias menjadi saleh. Pada akhirnya, kesalehan Ananias memampukannya menjadi orang yang taat kepada Tuhan.
 
Kapel yang dihadiri oleh Dosen dan Staf Kampus ini sungguh menyegarkan. Kami percaya bahwa Tuhan Yesus akan terus menggunakan Kapel Siang sebagai wadah untuk membentuk Mahasiswa STTII Purwokerto menjadi hamba Tuhan yang Seimbang antara Ilmu dan Iman.
(Tim Redaksi)