Menu Tutup

AUDIENSI & MOU DENGAN SINODE GNKP-INDONESIA

“Ya’ahowu pak Ephorus”..
 
Itulah kalimat pertama saya ketika berkomunikasi dengan Bapak Ephorus. Beliau langsung merespons dan menyambut dengan hangat.
 
Sinode Gereja Niha Keriso Protestan Indonesia biasanya disingkat dengan GNKP – Indonesia. Jika ingin lebih disingkat lagi menjadi GNKPI. Di ADRT sinode disingkat dengan “GNKP-Indonesia”. Merupakan salah satu Sinode yang baru dan paling terbaru mekar dari BNKP. Bahkan berdirinya belum berusia 20 tahun. Juga baru bergabung menjadi anggota Persekutan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) pada tanggal 7 November 2019, pada masa kepemimpinan Ibu Pdt. Dr Henriette Tabita Lebang, M.Th.
 
Pemekarannya berbarengan dengan Sinode Banua Keriso Protestan Nias (BKPN). Jika GNKPI “bermarkas” di Nias Kota dan Nias Utara, maka BKPN tersebar di Nias Selatan.
 
Ephorus GNKP-Indonesia saat ini adalah Pdt. Tolonihaogö Ndruru, S.Th, didampingi Sekretaris Umum Pdt. Talibudi Lahagu, S.Th. Kedua hambaNya ini masih tergolong muda. Energik, Visioner dan sedang mengupayakan peningkatan kualitas SDM baik di tingkat Gereja Lokal maupun pusat.
 
Dengan jumlah sekitar 90-an Gereja yang tersebar di Nias, GNKP-Indonesia tentu memiliki kesempatan besar untuk terus mengembangkan pelayanan Gerejawi di Nias. Memang harus diakui bahwa beberapa Gereja lokal masih belum memiliki Pendeta Jemaat. Pun, Resort yang harus membawahi beberapa Gereja dianggap tidak ideal. Ini tantangan. Tidak mudah memang.
 
Jika dirunut serunut-runutnya, masalah ekonomi adalah “biang utama”. Dalam beberapa kasus, jemaat dianggap belum mampu atau sebaliknya mendeklarasikan kepada Sinode bahwa mereka tidak/belum mampu untuk menghidupi Pendeta. Tentu hal ini bisa dimaklumi jika dari sisi sebagai warga sipil. Dari sisi pemerintahan, fakta ini tidak cukup jika hanya dimaklumi.
 
Perlu ada upaya konkrit untuk membantu warga Nias di pelosok. Ekonomi mereka perlu dipikirkan secara serius. Saya sendiri tidak ahli di bidang itu. Hanya sekedar memberi ide dan semangat betapa perlunya pemerintah turun tangan dengan serius.
 
Audiensi pada pertemuan pertama kami berlanjut dengan pertemuan kedua dengan penandatanganan Kerjasama (MoU) antara STTII Purwokerto dengan Sinode GNKP-Indonesia. MoU di bidang peningkatan SDM dan pembekalan warga jemaat untuk tidak mudah didoktrinasi dengan keyakinan yang lain.
 
Keterbukaan dan kehangatan Bapak Ephorus T. Ndruru dan timnya meyakinkan saya bahwa Gereja-gereja di Nias akan semakin maju. Nantinya, generasi yang dilahirkan dari Gereja-gereja Nias tidak hanya mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman, tetapi turut menjadi pelopor kemajuan di Gereja.
 
Dalam beberapa kali seminar di Nias, saya selalu ingatkan bahwa Nias perlu melahirkan Generasi seperti tahun 1916-1930. Saat itu banyak anak muda yang menyerahkan dirinya untuk menjadi hamba Tuhan yang militan. Dan terbukti. Kurun waktu 15 tahun, 850.000 orang menyerahkan diri untuk dibaptis. Mereka bertobat dan membangun peradaban Nias menjadi lebih baik.
 
Saohagolo pak Ephorus untuk persahabatan ini. Jamuan makan siangnya juga sangat nikmat. Sampai bertemu tahun depan. Kalau bisa sebelum tahun depan lah. Ya’ahowu

AUDIENSI & MOU DENGAN SINODE GEREJA AMIN

Gereja Angowuloa Masehi Indonesia Nias (Gereja AMIN) adalah salah satu Gereja Suku besar di Nias. Juga sebagai salah satu Sinode yang telah berusia tua. Juga salah satu Sinode yang mekar dari BNKP. Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) terbentuk dan secara resmi berdiri pada tahun 1936.
10 tahun kemudian, beberapa tokoh hamba Tuhan seperti Adolf Gea dan Pak Zebua merasa terpanggil untuk melakukan pemekaran. Mereka berdua dan beberapa rekan lainnya berdoa kepada Tuhan dan bertekad untuk menginisiasi pendirian Sinode baru.
 
Setelah melalui beberapa proses, Gereja AMIN berdiri pada tanggal 1 Mei 1946, tetapi baru diresmikan pada tanggal 12 Mei 1946. Sinode baru ini dianggap sebagai pemekaran pertama dari BNKP.
 
Pimpinan tertinggi di Gereja Suku Nias biasanya ditulis dan dipanggil dengan sebutan “Ephorus”. Dalam perbincangan sehari-hari disebut “Bapak Ephorus” atau “Pak Ephorus”. Istilah ini sama dengan sebutan “Ketua Sinode” atau “Ketua Umum” di Gereja yang menganut sistem pemerintahan Sinodal atau Kongregasional.
Gereja AMIN saat ini dipimpin oleh Pdt. Ododogo Larosa, M.Div. Dalam pertemuan pertama kami, saya hampir menyimpulkan bahwa beliau adalah sosok periang, aktif, dan “suka berbicara”. Ya, ternyata dalam pertemuan kedua benar adanya. Seru berdiskusi dengan beliau.
 
Bapak Ephorus menjelaskan, Gereja AMIN saat ini berjumlah sekitar 90-an Gereja yang tersebar di Nias dengan jumlah anggota jemaat sekitar 25.000 jiwa. Sebuah angka yang besar. Sebagian besar Gereja berada di Nias Kota, Gunung Sitoli.
Saya bersyukur tak terhingga karena Gereja AMIN sangat terbuka dengan fakta bahwa perkembangan zaman saat ini juga telah menyentuh Warga Gereja di Nias. Misalnya; kecepatan dan ganasnya penyebaran informasi media digital yang tak tersaring turut mempengaruhi kehidupan pemuda/i Gereja hingga ke ujung desa. Dampaknya tentu kompleks.
 
Pendeta, Guru Jemaat, serta pengurus Majelis Gereja menyadari hal ini. Mereka paham bahwa Generasi yang mereka layani adalah generasi yang sangat berbeda jauh dengan Jemaat 20 tahun lalu. Jemaat yang mereka layani adalah jiwa-jiwa yang tidak mungkin dipisahkan dari peradaban dunia yang maju dengan cepat. Hal ini saja sudah menjadi tantangan besar. Tantangan semakin tidak mudah karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM). Ya, peningkatan SDM adalah hal yang sedang digarap oleh Bapak Ephorus dan timnya.
Setelah audiensi pada pertemuan pertama, kami sepakat untuk membuat semacam Memorandum of Understanding (MoU) pada bidang pengabdian masyarakat.
 
STTII Purwokerto berkomitmen untuk berkontribusi dalam proses dan realisasi pengembangan Gereja AMIN. Melalui pembekalan dan peningkatan keahlian SDM, kami optimis bahwa Gereja AMIN akan semakin maju.
Terima kasih Pak Ephorus. Dua pertemuan yang sudah kita buat adalah Langkah awal. Ya’ahowu, Saohagolo.
 
Pangeran Manurung

AUDIENSI & MoU DENGAN SINODE AFY

Gereja Angowuloa Fa’awosa kho Yesu (AFY) dapat dikatakan sebagai Gereja Suku tertua di Nias. Sejaman dengan lahirnya Gereja BNKP.
 
Injil mulai masuk ke Nias pada tahun 1822. Namun misi itu dianggap gagal karena dua penginjil yang diutus ke Nias pada saat itu meninggal dunia beberapa bulan setelah mendarat di Nias. Injil baru benar-benar dinikmati oleh Warga Nias setelah kedatangan misionaris Jerman, Denninger pada tahun 1865.
 
Kekristenan bertumbuh lebih cepat lagi setelah kedatangan misionaris terkenal, Sundermann pada tahun 1876. Sundermann ibarat “Nommensen”nya Suku Batak karena dianggap sebagai tokoh penting yang harus dihormati oleh segenap warga Nias. Hingga saat ini namanya harum di Nias. Bahkan “diabadikan” oleh Sinode Gereja BNKP dengan memberi nama STT mereka dengan nama “STT Sundermann”.
 
Pada masa Denninger, pertumbuhan kekristenan di Nias dianggap masih tergolong lambat. Baptisannya masih di angka ratusan. Pertobatan masal baru terjadi di tahun 1900-an pada masa Sundermann. Periode 1915-1930 dianggap sebagai masa emas di Nias. Hampir seluruh warga Nias dari berbagai daerah bertobat.
 
Penyembahan terhadap agama leluhur ditinggalkan, lalu beramai-ramai menjadi Kristen. Fenomena ini terjadi dimana-mana. Pada masa itu. Nah, AFY lahir pada periode ini.
 
Melalui Persekutuan Doa yang dirintis oleh Thomas Lombu, AFY lahir pada tahun 1925 walau masih berbentuk Persekutuan Doa. Nama persekutuan doanya adalah “Fa’awosa”. Penyempurnaan nama sinode AFY sendiri baru dilakukan pada tahun 1975. Nama AFY dikenal sejak 1975 tetapi hakekat gerejanya sudah sejak tahun 1925. Lebih tua sedikit dari tahun berdirinya Sinode BNKP.
 
Jadi AFY lahir tidak lama setelah adanya beberapa baptisan baru pada tahun 1915. BNKP dalam bentuk sinode baru berdiri tahun 1936. Boleh lah dikatakan bahwa AFY dan BNKP lahir pada periode yang sama. Bedanya dimana?
 
Hanya asumsi saya. Mungkin bedanya terletak di pengelolaan. Sejak awal BNKP itu dikelola oleh Zending (Badan Misionaris) yang telah berpengalaman dalam mengembangkan Gereja di negara-negara lain. AFY bermula dari persekutuan doa yang lebih bersifat personal sehingga pengelolaannya tidak bersifat global atau melalui mekanisme organisasi. Tentu dapat dimaklumi jika BNKP lebih cepat berkembang, baik di Nias maupun diluar Nias.
 
Yang patut disyukuri, AFY saat ini sedang melakukan berbagai terobosan. Dengan jumlah Gereja yang mencapai angka 210 dengan jumlah jemaat sekitar 44.000, tentu AFY memiliki modal besar untuk semakin maju dari berbagai aspek.
 
Saat ini AFY dipimpin oleh Bapak Ephorus yang masih muda. Namanya Pdt. Yanto Hura. Usia baru 36 tahun. Sekretaris Umum yang mendampinginya juga masih muda. Baru 38 tahun. Bendara Umum Sinode ini bahkan jauh lebih muda lagi. Muda tapi smart. Itu kesan yang saya tangkap setelah bertemu dengan tim ini.
 
Pak Ephorus saat ini masih disibukkan dengan sebuah misi besar. Merevisi terjemahan Alkitab bahasa Nias supaya lebih relevan dan jelas bagi pembaca modern. Sudah dikerjakan selama 10 tahun tetapi belum selesai. Dapat dimaklumi karena penerjemahan Alkitab memang tidak mudah. Semoga Pak Ephorus dan tim penerjemah Alkitab yang sudah berjerih lelah, pada waktunya akan menikmati hasil karya mereka.
 
Berbincang dengan teman-teman Hamba Tuhan AFY, saya melihat bahwa sepertinya mereka sedang dengan gigih mempersiapkan Gereja untuk lebih cepat maju sambil memikirkan dan mengupayakan cara terbaik untuk menghadapi tantangan zaman yang tidak mudah saat ini.
 
STTII Purwokerto menawarkan diri untuk terlibat atau setidaknya berkontribusi dalam pengembangan SDM AFY. Pak Ephorus dan timnya sangat welcome.
 
Sejak awal saya tidak ragu dengan Pak Ephorus ini. Sejak mendengar bahwa beliau lulusan dari STT Injili Arastamar, kontak batin sudah terasa dengan sebutan “Injili”..haha
 
Setelah audiensi, kami sepakat untuk mengadakan MoU. Karena keterbatasan waktu, penandatanganan kami lakukan di Gunung Sitoli bersama Pak Bro Bendahara Umum AFY.
 
Saohagolo Pak Ephorus dan tim AFY. Kami berdoa, kemajuan AFY ke depan akan terealisasi bersama Generasi Muda AFY, baik yang telah dipersiapkan dan sedang dipersiapkan.
 
Pangeran Manurung